Teuku Neta Firdaus : “Musuh dalam selimut Jokowi di BUMN”

0
384

thejokowicenter.or.id – Saya menduga bahwa 12 kali kecelakaan kerja proyek infrastruktur dari Tahun 2017 hingga 2018 seperti ada faktor kesengajaan yang dilakukan oknum di BUMN. Hal itu dilakukan mungkin untuk mempermalukan atau menggagalkan proyek-proyek strategis pemerintahan Jokowi-JK.

Diperkirakan saat ini ada 119 BUMN, 300 anak BUMN dan 400 cucu BUMN. Total sekitar 800-an BUMN dari induk hingga cucu. Jika satu BUMN, anak dan cucu nya rata rata ada 3 posisi komisaris dan 3 posisi direksi berarti 6 kali 800 atau 4800 posisi di BUMN dari induk, anak dan cucu.

Nah kalo selama 3 tahun Pemerintahan Jokowi-JK baru ada pergantian komisaris dan direksi baru menyentuh sekitar 400an orang, maka masih ada sekitar 4.400 orang lama di dalam sana yg bisa jadi merupakan lawan-lawan politik atau minimal bukan pendukung Jokowi di Pilpres kemarin. Kenapa sekitar 4.400 komisaris dan direksi itu di identifikasikan sebagai lawan politik atau bukan pendukung Jokowi?

Sederhana..karena mereka bukan rekomendasi dari partai pendukung maupun kelompok-kelompok relawan pendukung Jokowi. Bisa dikatakan dari 4.400-an nama itu sudah ditempatkan jauh waktu sebelum Jokowi menjadi Presiden. Dengan kata lain mereka adalah orang orang pilihan pemerintahan sebelum Jokowi.

Maka kecelakaan beruntun dari beberapa proyek yang dikerjakan BUMN tersebut tidak cukup dengan melakukan evaluasi, tapi harus ada penyelidikan khusus dari KPK, Polri atau kejaksaan, sehingga pihak-pihak yang terlibat dalam insiden proyek tersebut dapat dikenakan sanksi pidana, patut diduga bahwa insiden terjadi dalam proyek tersebut karena korupsi, pengerjaan tidak sesuai bestek, mengurangi kualitas dan kuantitas material.

Sayangnya orang-orang yang digaji oleh Pemerintahan Jokowi dan diduga ingin menghambat program Jokowi itu masih banyak, secara hitungan kasar coba kita berandai-andai, jika gaji dari 4.400 orang lama itu rata rata per bulan Rp 20 juta saja maka Pemerintahan Jokowi telah menggaji “lawan” politik nya setiap bulan Rp 88 Milyar atau Rp 1,56 Triliun pertahun. Hitungan itu memang tidak akurat tapi bisa untuk menjadi gambaran bagi kita bahwa pemilu 2019 nanti logistik dan jaringan ada di tangan lawan-lawan Jokowi.

Kita mungkin bisa berdebat bahwa posisi-posisi di BUMN boleh jadi di isi oleh para profesional. Argumentasi itu sesungguhnya tidak bisa dibenarkan karena hampir semua BUMN selama ini selalu merugi dan proyek-proyek yang mereka kerjakan banyak ambruk. Kerugian dan insiden yg terjadi tiap tahun itu membuktikan bahwa 4.400 an orang itu bukanlah orang-orang profesional.

Pertanyaan kita apakah Presiden Jokowi tahu hal ini atau tidak? Apa mungkin Jokowi hafal latar belakang 4.400 an orang itu? Kalau Jokowi tidak tahu maka siapa yg memanipulasi informasi ke Presiden? Apa tujuannya, apakah sekedar bekerja, bisnis atau bertujuan politis jelang Pilpres 2019 yang tersisa waktu 14 bulan lagi?

Memanipulasi informasi dan data, menyusupkan nama-nama orang dalam BUMN, cucu dan anak tentu sangat mudah. Siapapun tahu bahwa ditengah kesibukan Jokowi membangun 10.000 km jalan, kereta api, 34 pelabuhan, 35.000 mega watt pembangkit listrik, belasan bandara, membangun pasar-pasar, mengontrol harga harga, mendongkrak hasil pertanian, berkeliling negara-negara asing menarik investor dan lain-lain maka Jokowi berfikir positif saja dan terus berkerja, tidak punya waktu “bersu’udzon” kepada orang-orang yang tidak suka kepada dirinya.

jika ada 4.400 orang di BUMN seperti “musang berbulu ayam”, lalu tiap hari masing masing orang itu bercerita pada 10 orang tentang hal hal negatif pemerintahan jokowi maka dalam 1 tahun hal hal negatif Jokowi tersebar secara masif ke 16.060.000 orang atau dalam 3 tahun ke depan propaganda negatif tersebar ke 48 juta orang.. masif, terorganisir dan sistematis tanpa sosmed, koran atau televisi. Gerilya politik dari mulut ke mulut.

Ingat, sisa waktu pemerintahan Jokowi hingga pemilu berikutnya tinggal 14 bukan lagi, sangat pendek dan Jika Jokowi ingin memastikan memerintah selama dua periode maka melakukan bersih bersih di seluruh BUMN menjadi keharusan yang tidak bisa ditolak.

Tulisan ini bukan disertasi ilmiah hanya sekedar tulisan orang biasa yg meyakini bahwa Jokowi adalah orang baik, pekerja keras dan membawa perubahan besar melalui Revolusi Mental.. tapi Revolusi Mental itu bisa gagal total jika tidak segera dilakukan Revolusi Posisi di berbagai tempat dan tingkat mulai Dirjen, Sesmen bla bla bla hingga BUMN berikut anak dan cucu nya.

24 Februari 2018
Salam dua Priode